LDrGapuFboEFZ6xj2BO9udMHgwH6y5VPp54hPM8A

Mengenal Sistem Imun Dan Respon Imun Ditubuh Kita



Pertahanan Humoral dan seluler
Photo by Unsplash

Daftar isi

Kedokteran.club-

Sistem Imun Pada Tubuh manusia

 Definisi

Imunitas adalah sebagai pertahanan terhadap penyakit infeksi

Sistem Imun adalah kumpulan sel-sel jaringan dan molekul-molekul yang berperan dalam pertahanan infeksi. Fungsinya berperan dalam mencegah serta membasmi infeksi

Respon Imun adalah reaksi terkoordinasi sel-sel dan molekul tersebut dalam pertahanan terhadap infeksi

Macam-Macam Respon Imun

Imunitas Bawaan (Innate Immunity/Natural Immunity)
"Provides immediate protection against infection. Always in a healthy individual, and prepared to enter microbes to eliminate microbes that have been transferred to the tissue quickly ”

PERTAHANAN HUMORAL

  • Komplemen
  1. Berada dalam sirkulasi.
  2. Menghancurkan beberapa bakteri gram (-).
  3. Karena ada kerjasama antibody-komplemen.

  • Mekanismenya:
    1. Menghancurkan lapisan membrane lipopolisakarida dinding sel (diaktifkan oleh lipopolisakarida sendiri).
    2. Karena bersifat esterase à fungsinya sebagai melisiskan.
    3. Bersifat MAC:
      • Membrane Attack Complex.
      • Mematikan mikroba dengan membentuk lubang-lubang kecil pada membrane sel mikroba.
      • Banyak mengandung protein yang jika diaktifkan dapat memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respons inflamasi.
  • Diaktifkan melalui;
    1. Jalur klasik (antigen-antibody).
    2. Jalur alternative (oleh mikroba / produknya).
  • Berperan sebagai opsonin:
    1. Meningkatkan fagositosis.
    2. Destruksi / lisis bakteri dan parasit.
    Ada 9 dasar komponen komplemen

  • yaitu C1-C9 bila diaktifkan di pecah menjadi bagian-bagian yang besar dan kecil (misal: C3a,C3b,dll).

    Fragmennya adalah berupa enzim tersendiri dan mengikat serta mengaktifkan molekul-molekul yang lain Komplemen tersebut juga dapat berinteraksi dengan inhibitor yang menghentikan reaksi selanjutnya. Sangat sensitive dengan sinyal-sinyal kecil.


  • Mediator yang di lepas oleh komplemen, dapat menghasilkan molekul efektor:
    1. Anafilatokin
    2. Kemotaksin
    3. Adherens imun.
    4. Opsosnin
    5. MAC
    6. Aktivasi komplemen:

  • Diaktifkan melalui 3 jalur, yaitu:

    Aktivasi kompleman melalui jalur lektin

    Untuk yang pertama adalah manan Binding Lectin/mbl Merupakan kolektin yang bisa di ikat melalui bagian lektin hidrat arang kuman, setelah MBL di ikat kuman melalui lektin tersebut, MBL segera mengaktifkan C3.

    Aktivasi kompleman melalui jalur klasik
    1. Aktifasi di mulai dengan C1 yang dicetuskan oleh kompleks imun antibody-antigen.
    2. Melibatkan 9 komplemen protein utama; C1-C9.
    3. Selama aktifasi, protein-protein diaktifkan secara berurutan, produk yang dihasilkan menjadi katalisator dalam reaksi berikutnya.
    4. Lipid A dari endotoksin, protease, Kristal urat, polynucleotide, membrane virus tertentu, dan C-Reaktif Protein (CRP) dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik   
    Aktivasi Komplemen Melalui Jalur Alternative
    1. Aktifasi dimulai dengan C3 yang merupakan molekul yang tidak stabil, dan terus-menerus ada dalam aktifasi spontan derajat rendah dan klinis yang tidak berarti.
    2. Aktifasi spontan C3 diduga terjadi pada permukaan sel, meskipun sel normal mengekspresikan inhibitor permukaan yang mencegah aktifasi C3
    3. Permukaan pathogen tidak memiliki inhibitor komplemen. Beberapa sel tidak dapat dilindungi oleh inhibitor komplemen akan diserang oleh komplemen.
    4. Aktifasi komplemen yang berlebihan tidak diinginkan oleh karena menimbulkan inflamasi dan kematian sel yang luas.
    D ari ketiga pathway ini akan bertemu ditengah. lalu komponen C3 convertase terkait secara kovalen ke permukaan pathogen lalu akan memotong C3 menjadi C3a dan C3b. C3a ini merupakan peptide kecil yang mengikat reseptor, membantu mengindukasi peradangan. Dan C3b akan mengikat secara kovalen permukaan mikroba.

    Protein Fase Akut
    • Selama terjadi infeksi, produk bakteri selain lipopolisakarida (LPS) mengaktifkan makrofag dan sel-sel lain untuk melepas berbagai sitokin seperti IL-1 yang merupakan pathogen endogen, TNF, dan IL-6.
    • Sitokin-sitokin tersebut merangsang hati untuk mensintesis dan melepas sejumlah protein plasma fase akut, seperti:
    CRP (C-Reactive Protein)
    • Mengikat Protein-C dari pneumococcus dan berupa opsonin.
    • Mengikat berbagai mikroorganisme dan mengaktifkan komplemen jalur aktif.
    • Merupakan salah satu protein fase akut, meningkat pada infeksi akut sebagai respon imun Non-Spesifik.
    Mannan Binding Lectin (MBL)
    • Merupakan reaktan fase akut yang dapat mengikat residu manosa pada permukaan bakteri dan berperan sebagai opsonin.
    • Berperan mengaktifkan komplemen.
    Kolektin
    • Protein yang berfungsi sebagai opsonin yang dapat mengikat hidrat arang pada permukaan kuman.
    • Kompleks yang terbentuk diikat reseptor fagosit untuk dimakan, selanjutnya komplemen dapat diaktifkan.

    PERTAHANAN SELULER

    1.Fagosit

    • Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan fagositosis, tetapi sel utama yang berperan dalam pertahanan non-spesifik adalah sel mononuclear (monosit & makrofag) serta sel polimorfonuklear atau granulosit.
    • Sel-sel tersebut berperan sebagai sel yang menangkap antigen, mengolah, dan selanjutnya mempresentasikan kepada sel-T, yang dikenal sebagai sel penyaji atau Antigen Precenting Cell (APC).
    • Kedua sel tersebut berasal dari sel asal hemopoietic. Granulosit Memiliki short-life mengandung granule yang mengandung enzim hidrolitik, beberapa granule berisikan pula laktoferin yang bersifat bakteriosidal.
    • Mrmiliki sistem Fagositosis yang efektif pada saat invasi kuman awal yang akan dapat mencegah timbulnya infeksi. baik itu juga infeksi terhadap virus dan bagaimana respon tubuh kita terhadap virus.yang nanti Dalam kerjanya, sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan system imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut; kemotaksis, mengangkap, memakan, fagositosis, memusnahkan, dan mencerna.
    • Destruksi mikroba intrasellular terjadi oleh karena di dalam sel fagosit, monosit dan polimorfonuklear, terdapat bahan antimicrobial seperti lisosom, hydrogen peroksida (H2O2) dan mieloperoksidase.
    • Tahapan akhiran dari proses Fagositosis adalah pencernaan protein, polisakarida, lipid, dan asam nukleat di dalam sel oleh enzim lisosom. Sel polimorfonuklear banyak ditemukan pada saat inflamasi akut, sedang monosit pada inflamasi kronik.


    2.Makrofag

    • Monosit ditemukan dalam sirkulasi, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit di banding neutrofil.
    • Monosit bermigrasi ke jaringan dan disana berdiferensiasi menjadi makrofag yang seterusnya hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen
    • Sel kuffer adalah makrofag dalam hati, Histiosit dalam jaringan ikat, Makrofag Alveolar di paru, Sel Glia di otak, dan Sel Langerhans di kulit.
    • Makrofag dapat hidup lama, mempunyai beberapa granule dan melepas berbagai bahan, antara lain lisozim, komplemen, interferon dan sitokin yang semuanya memberikan kontribusi dalam pertahanan non-Spesifik dan Spesifik.

    3.Sel NK

    • Limfosit terdiri atas sel-B, sel-T (Th, CTL) dan sel-NK. Yang akhir adalah golongan limfosit ke-3 sesudah sel-T dan sel-B.
    • sekitar 5-15% dari limfosit yang dapat bersirkulasi dan 45% dari limfosit dalam jaringan.
    • Salah satu fungsi dari sel tsbt adalah sebagai imunitas non-Spesifik terhadap virus dan sel tumor.
    • Secara morfolofis, sel NK merupakan limfosit dengan granule besar. Ciri-cirinya yaitu memiliki banyak sekali sitoplasma (limfosit T dan B hanya sedikit mengandung sitoplasma), granule sitoplasma azuropfilik, pseudopodia dan nucleus eksentris. Oleh karena itu sel NK sering pula disebut Large Granular Lymphocyte (LGL).

    4.Sel Mast

    • Sel mast berfungsi dalam respon alergi, dan juga dalam pertahanan pejamu, jumlahnya menurun pada syndrome imunodefisiensi.
    • Sel mast juga berfungsi terhadap imunitas terhadap parasit contohnya cacing dalam usus dan terhadap invasi bakteri.
    • salah satu faktor non-imun seperti latihan jasmani, tekanan, trauma, panas, dan dingin dapat pula mengaktifkan dan degranulasi sel mast.
    Kalian bisa dapatkan ebook nya disini


    Buat teman-teman ku semuanya mungkin hanya segitu saja yang dapat saya sampaikan tetap semangat dan terus berkarya semoga artikel yang kalian baca ini bisa bermanfaat bagi saya ataupun kalian.

    Sumber ;

    Cellular and Molecular Immunology, 8th Edition
    Kuby Immunology 7th 2013

    Related Posts
    HabibSH
    Perkenalkan Saya Habib Syarif Hidayatuloh, Panggil saja saya habib, Saya merupakan mahasiswa kedokteran yang sedang menempuh perjalanan kuliah saya di suatu univ. tujuan saya membuat blog ini saya mau berbagai tentang pendidikan kedokteran, pengalaman saya ataupun informasi Kesehatan dan semoga bisa bermanfaat bagi kalian.

    Related Posts

    Post a Comment